JAGUARPOST.COM || PEKANBARU – Markas Besar Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Provinsi Riau di Jalan Diponegoro tampak dipadati oleh barisan Hulubalang pada Senin (04/05). Kedatangan para pengawal adat dari berbagai daerah ini merupakan respons spontan atas kegaduhan yang dipicu oleh video viral bermuatan makian dan kata-kata kotor di sebuah kedai kopi baru-baru ini.
Pantauan di lokasi, terlihat perwakilan Hulubalang LAMR Kota Pekanbaru, Hulubalang Pelalawan, hingga Hulubalang Rohul hadir dengan atribut lengkap, menciptakan suasana yang khidmat sekaligus tegas dalam menjaga marwah negeri.
Pernyataan Tegas Ketua DPH LAMR
Di hadapan elemen masyarakat adat dan awak media, Ketua DPH LAMR Riau Kota Pekanbaru Datuk Seri Muspidauan, SH. MH, menyampaikan pernyataan resminya. Beliau menegaskan bahwa tindakan dalam video tersebut bukan sekadar masalah personal, melainkan pelanggaran etika publik di tanah yang menjunjung tinggi syariat.
”Negeri ini adalah negeri beradat. Adat bersendikan syarak, syarak bersendikan Kitabullah. Tidak ada tempat bagi siapa pun untuk melontarkan makian atau kata-kata kotor di ruang publik yang dapat merusak tatanan sosial kita,” tegas Datuk Seri Muspidauan.
Solidaritas Hulubalang Menjaga Marwah
Kehadiran Hulubalang dari berbagai kabupaten/kota ini menunjukkan bahwa masyarakat adat tidak tinggal diam ketika nilai-nilai kesantunan Melayu dilecehkan. Kehadiran mereka bertujuan untuk:
Mengawal Keputusan Adat: Memastikan bahwa setiap pernyataan sikap LAMR didukung penuh oleh kekuatan akar rumput.
Menjaga Kondusivitas: Memastikan kegaduhan di media sosial tidak bergeser menjadi konflik fisik, namun tetap memberikan peringatan keras secara moral.
Simbol Persatuan: Menunjukkan bahwa Hulubalang di seluruh penjuru Riau satu suara dalam urusan adab dan etika.
Pesan Untuk Masyarakat
Dalam pertemuan tersebut, ditekankan kembali bahwa identitas Melayu identik dengan lisan yang terjaga. Kejadian di kedai kopi tersebut dianggap sebagai pelajaran pahit agar ke depannya, masyarakat maupun pendatang di Bumi Lancang Kuning dapat lebih menghormati tempat mereka berpijak.
”Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Jangan karena emosi sesaat, marwah negeri ini dikoyak dengan lisan yang tidak beradab,” tutup pernyataan dari pihak LAMR.
Pertemuan tersebut berakhir dengan tertib, dan para Hulubalang membubarkan diri setelah mendapatkan arahan langsung untuk tetap siaga menjaga keamanan dan ketertiban di daerah masing-masing.(**ocha)



Komentar